Jumat, 02 Desember 2011

ARI-ARI BAYI


ARI-ARI BAYI


Tradisi beberapa kelompok masyarakat di tanah air, memposisikan ari-ari bayi (plasenta) seperti “saudara kembar” dari bayi yang telah dilahirkan. Karenanya beberapa kelompok masyarakat tersebut memperlakukan ari-ari tersebut dengan ritual tertentu sesuai dengan adat istiadat setempat, mitos apa dibalik fenomena demikian?.
Lahirnya anggapan bahwa ari-ari diposisikan sebagai saudara kembar dari bayi karena setiap proses kelahiran akan selalu dibarengi dengan ari-ari. Secara biologis maka masa kehamilan dalam perut ibu maka ari-ari memang “mendampingi” sang janin, hal ini ari-ari mengembang beragam fungsi yaitu sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh.

Apabila salah satu fungsi vital tersebut terganggu, maka janin akan mengalami masalah dan akan membuat pertumbuhan biologisnya juga berpeluang mengalami gangguan. Beragam kelainan dari pertumbuhan ari-ari baik bawaan ataupun akibat pengaruh lingkunganmaka tidak berlebihan apabila ari-ari disebut “saudara kembar” sang janin.

Ketika proses persalinan berlangsung maka ari-ari juga dikeluarkan sehingga setelah dipotong pada ujung pusar dan pada ujung yang lainnya. Gumpalan daging yang kaya protein dengan berat  sekitar 0,5 sampai dengan 1 kg.   Ari-ari ini tidak terbantahkan sebagai potongan dari tubuh manusia karenanya diperlukan pengetahuan cukup untuk memperlakukannya.

Dalam ajaran Islam tidak ditemukan sandaran teks yang mengatur tentang hal ini secara eksplisit. Namun Islam mensyaratkan untuk memperlakukan ari-ari bayi yang baru lahir tersebut dengan cara yang beradab. Akan lebih baik apabila ari-ari tersebut dikuburkan, untuk tempatnya bisa dimasukkn kedalam gerabah/kendi dari tanan agar tidak berceceran.

Beberapa mitos terkait ari-ari juga ada pada masyarakat kita terkait hal ini, misalnya adat Jawa menanamnya yang terlebih dahulu diberikan beberapa macam bumbu dapur (garam, kunir, ketumbar),  dibungkus kain putih, lalu diatas gundukan tempat ditanamnya diberi penerangan selama 40 hari, dll). Dibungkus kain putih karena menghormati organ manusia untuk diperlakukan seperti dikafani, diberikan bumbu dapur garam, kunir, ketumbar agar mempunyai tujuan tertentu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes